.:: S E Z ::.
Jul
10

FTZ METROPOLIS BATAM DALAM PERSPEKTIF PENDEKATAN MANAJEMEN KOTA ABAD KE 21

Paradigma manajemen kota di abad milenium adalah pada manajemen stratejik yang berfokus pada administrasi publik. Mengadopsi model manajemen Abad 21 BAGI Batam Metropolis FTZ (BM-FTZ) membutuhkan adanya reformasi struktural (kinerja institusi) dan transformasi kultural (sikap mental aparatur) untuk meningkatkan pelayanan publik. Orientasi institusi yang sebelumnya lebih menekankan pada aspek hasil (out-put) harus bergeser ke analisis terukur atas inter-korelasi berbagai variable pembangunan. Hasilnya “OK-OK” saja tetapi proses juga perlu dire”OK”kan. Implikasi institusional adalah bahwa anggaran disusun semakin berbasis kinerja dan setiap proyek atau kegiatan harus dianalisis secara kritis antara sumberdaya yang tersedia (in-put), efisiensi cara pencapaian tujuan (process), optimalisasi hasil yang diperoleh (out-put), maksimalisasi akibat yang diharapkan (outcome) dan dampak yang diinginkan (impact) serta manfaat yang diharapkan (benefit). Pendekatan perencanaan stratejik ini di era BM-FTZ ini merupakan esensi dari membangun kepemerintahan yang baik (good governance) oleh pemerintah yang bersih (good governance). Kota Batam berpotensi menerapkan manajemen stratejik ini dalam kebijaksanaan publik. Kota kepulauan ini (archipelagic city) memiliki peluang menjadi ”pilot project” dan labolatorium hidup penerapan paradigma organisasi pembelajaran (learning organization). Dalam 10 tahun kedepan pulau kota ini (city island) akan tumbuh menjadi kota pintar (smart city) dengan pulau-pulau cerdasnya (intelligent islands) dan masyarakat yang lugas dan tegas.

Manajemen Sibernetika

Paradigma klasik birokrasi pemerintahan yang awalnya dibutuhkan (model Weberian tahun 1900-an) ternyata menjadi kekuatan “super-body (over-bureaucratism) yang menakutkan. Beranjak dari analisis variabel penghambat dalam birokrasi (internal constraints) maka muncul organisasi pemerintahan yang berbasis kinerja (Peter Ducker; 1950). Di era millennium, tuntutan akan pengurangan peran birokrasi (bureaucratic downsizing) semakin jelas. Di jajaran pemerintah, model debirokratisasi bermakna memangkas prosedur yang sebelumnya diasumsikan berbelit dan mahal (bureaucratic tapes and tips) menjadi mudah (streamline). Restrukturisasi birokrasi di era BM-FTZ harus dicapai agar posisi Pemerintah lebih sebagai “regulatorbukan telalu fokus pada fungsioperator”. Kebijaksanaan menswastakan urusan pelayanan publik oleh David Osborn dinamakan ”Reinventing Government”, dan paradigma manajemen pemerintahanpun berubah ke paradigma organisasi pembelajaran (Senge; 2000).

Menerapkan “science-based management” dengan aplikasi IT (Information Technology) merupakan salah satu model institusi pemerintahan dengan manajemen sibernetika. Pendekatan yang serba iptek ini membutuhkan pergeseran pemikiran (shift of mind). Kepemimpinan yang sebelumnya hanya memimpin jadi pemimpin oleh Peter Senge (2000) mendapat peran baru sebagai ahli perancang (designer), peran sebagai pendidik (teacher) dan peran sebagai pelayan (steward). Reposisi peran ini akan menjadikan institusi kepemerintahan menjadi organisasi yang terus menerus berkembang dan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas aparaturnya. Di Abad ke 21 adalah era dimana institusi pemerintahan harus memiliki kemampuan beradaptasi menjadi organisasi pembelajaran (learning organization), sesuatu yang harus ada dalam BM-FTZ.

Kepemimpinan Paripurna

Kompleksitas sosial, implikasi industrialisasi, pengaruh revolusi teknologi membutuhkan pendekatan baru kepemimpinan. Penerapan azas manajemen moderen sejalan dengan tuntutan akan peningkatan kesejahteraan umum. Dua hal yang perlu dilakukan untuk mencapainya adalah dengan peningkatan produktifitas bagi masyarakat dan peningkatan prestasi kerja dalam pemerintahan. Abad milenium membutuhkan pola kepemimpinan demokratis dengan empat kekuatan atau kemampuan yakni kompetensi intelektual (IQ), kapasitas emosional (EQ), kualitas spiritual (SQ) dan kapabilitas phisikal (PQ). Keempat kekuatan ini akan melahirkan pemimpin yang berpikir cerdas, bekerja keras, dan bermotif ikhlas. Para Nabi di zamannya adalah para pemimpin paripurna sebagaimana sifat ke-Nabian Muhammad Rasulullah SAW, yakni amanah, fathonah, siddiq dan tabliq. Mengendalikan emosional misalnya identik dengan pengendalian diri. Dalam manajemen qalbu ia menyentuh suasana hati nurani, dikenal dengan ”emotional management” yang bisa membedakan kualitas pimpinan yang satu dengan lainnya. Oleh karenanya praktek kepemimpinan dalam pendekatan emosi adalah melalui manajemen tingkah laku, sesuatu yang dibutuhkan tetapi bisa langka di era dimana BM-FTZ akan berkembang dan “mengepak sayapnya”.

Tentang kepemimpinan paripurna, Veithzal (2004) me-elaborasi dengan konsep ”Super-leadership”. Kepemimpinan ini akan menghasilkan self-leadership (kepemimpinan mandiri). Kata kuncinya adalah pemberdayaan (empowerment is power) dan meningkatkan budaya teknologi informasi (email,faximile, videophone, internet, multi-media, universal mobile telephone system, PDA/Personal Digital Assistance) dan diaplikasikan dalam sistem multi-media-telematika misalnya melalui konferensi jarak jauh (tele-conference). Sebaliknya aplikasi iptek ini telah melahirkan pula masyarakat yang ”self-leadership” yakni komunitas cinta teknologi (IT-minded) yang cukup bekerja di depan komputer dengan sarana mobilitas-telekomunikasi terpasang di rumah. Sekali lagi teknologi bergerak (mobile) menjadi masyarakat tidak banyak bergerak (immobile society), memudahkan pemimpin untuk saling “berkontak” menyangkut hal-hal yang “mustahak” dengan rakyat yang terus berkehendak dan menuntut hak.

Munculnya komunitas yang berparadigma ”self leadership ini meninggalkan model kepemimpinan karismatis-tradisional dan memunculkan model kepemimpinan ultra-rasional (super-leadership). “Self-leadership adalah apa yang dilakukan seseorang untuk memimpin dirinya sendiri, berorientasi positif dan bertanggung jawab untuk mengontrol hidupnya sendiri. Dengan konsep setiap orang dilahirkan sebagai pemimin (all are leaders), maka mereka harus mengembangkan potensi diri dari dalam diri sendiri, apalagi Al Qur’an menegaskan kedudukan manusia sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi (Surat Huud: 61), suatu keyakinan yang harus dicermati sebagai “cemeti”.

IP Address is:
38.107.191.106

Posted in BAB III |

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.